Konsep dan Usaha Mencari Kebenaran

Apa itu Kebenaran

AKHMAD.COM - Manusia dalam hidupnya selalu ingin mencari sesuatu yang benar. Tidak terbatas apakah yang diusahakannya baik atau buruk, tetap selalu ingin mengetahui kebenaran sesungguhnya dari apa yang diusahakannya. Namun kebenaran yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kebenaran terhadap sesuatu yang hasilnya bermanfaat bagi kehidupan manusia.

konsep-dan-usaha-mencari-kebenaran

Kebenaran Secara Etomologi dan Epistemologi

Menurut Mufid (2010) bahwa “Secara etimologi (bahasa) “benar” mempunyai arti:
  1. Tidak salah, lurus dan adil contohnya dalam kalimat, “hitungannya benar” 
  2. Sungguh-sungguh, tidak bohong contohnya dalam kalimat “kabar itu benar” 
  3. Sesungguhnya, memang demikian halnya contohnya dalam kalimat, “benar ia tidak salah, tetapi ia terlibat perbuatan ini”. 
  4. Sangat, sekali contohnya dalam kalimat, “enak benar mangga ini”.
Secara etimologi terlihat bahwa istilah kebenaran atau kata benar memiliki banyak pandangan. Itulah sebabnya pengertian dari kebenaran mengundang banyak persepsi dari para ahli. Namun dari sejumlah konsep kebenaran yang dikemukakan para ahli, pada intinya memiliki arti yang sama yaitu sesuatu yang tidak salah atau tidak menyimpang dari yang semestinya.

Adapun “secara epistemologi (istilah), pengertian kebenaran dilihat dari berbagai teori mengenai kebenaran, yang antara lain, Suparlan (2007) dalam Mufid (2010):
  1. Teori Koherensi Menurut teori ini suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar bila ia berjalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya, yakni kalau proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan sebelumnya. Jika “semua manusia pasti akan mati” adalah benar, maka “si A akan mati” adalah benar juga. 
  2. Teori Korespondensi Suatu pernyataan adalah benar jika ia berhubungan dengan objek yang dituju oleh pernyataan itu. Contoh “Jakarta adalah ibu kota Indonesia” adalah benar karena sesuai dengan fakta.
  3. Teori Pragmatis Suatu pernyataan dinilai benar jika konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Contoh, “memakai Helm wajib bagi pengendara sepeda motor”, adalah benar karena pernyataan tersebut berguna dalam kehidupan praktis.

Menurut Gulo (2002) dalam Bungin (2005) bahwa “Cara mendapatkan pengetahuan mempunyai sumber yang beragam. Pandangan filsafat menyatakan sumber pengetahuan adalah dua hal yakni rasional dan empiris”. Bungin (2005) menegaskan bahwa “Rasional berkaitan dengan memperoleh pengetahuan dengan cara menggunakan akal untuk menalar sesuatu objek secara abstrak. Empiris berhubungan dengan mendapatkan pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman nyata.

Misalnya pada zaman dahulu masyarakat nelayan di pesisir kecamatan Tinombo menangkap ikan dengan cara-cara tradisional, sekarang dengan pengetahuan dan tekhnologi teknik penangkapan maka cara-cara tradisional mulai ditinggalkan. Artinya pengetahuan yang benar dalam hal memperoleh hasil tangkapan ditemukan berdasarkan pengalaman yang lalu.

Pencarian kebenaran zaman dahulu dilakukan berdasarkan cara-cara yang tidak ilmiah. Cara mereka sebagaimana contoh di atas dilakukan secara tidak sistimatis, dan hasilnya seringkali bersifat subjektif. Ketika cara tersebut diterapkan pada kelompok lain pada waktu yang berbeda maka kadangkala hasilnya berbeda. Inilah salah satu ciri dari pencarian kebenaran dengan cara yang non ilmiah.

Bungin (2005) menegaskan bahwa: Kenyataan lain pula, sebelum orang mengandalkan metodologi sebagai alternatif akhir dari cara menjawab dorongan keingintahuan terhadap dunianya, orang menempuh cara-cara lain yang non ilmiah yang menurutnya lebih praktis dan lebih cepat menghasilkan jawaban.

Penggunaan cara-cara ilmiah dalam sebuah aktifitas menjawab rasa ingin tahu, tidak saja memperhatikan kebenaran ilmiah (scientific truth), akan tetapi juga memperhatikan cara-cara untuk memperoleh kebenaran ilmiah itu, cara itu adalah penelitian ilmiah (scientific research) atau disebut metode penelitian. Cara-cara yang digunakan orang untuk mencapai kebenaran tanpa melalui penelitian ilmiah-yaitu cara non ilmiah-disebut unscientific. Ini tidak dapat disebut scientific truth.

Dalam menjawab keingintahuannya, baik ditempuh dengan menggunakan pendekatan unscientific maupun scientific, kedua-duanya dikatakan sebagai usaha melakukan penelitian. Sebagaimana dikatakan Bungin (2005) bahwa “baik cara untuk mendapatan kebenaran (hasil akhir dari menjawab dorongan keingintahuan seseorang) melalui unscientific maupun cara scientific research, kedua-duanya dapat disebut sebagai penelitian. Akan tetapi cara yang pertama hanya dapat disebut dengan penelitian, sedangkan cara kedua disebut dengan penelitian ilmiah”

Cara-cara mencari kebenaran yang bersifat non ilmiah dapat dibedakan dalam beberapa hal menurut Mufid (2010) sebagai berikut:
  1. Kebenaran karena kebetulan Kebenaran yang didapatkan dari kebetulan dan tidak ditemukan secara ilmiah. Tidak dapat diandalkan karena kadang kita sering tertipu dengan kebetulan yang tidak bisa dibuktikan. Namun satu atau dua bisa juga menjadi perantara kebenaran ilmiah, misalnya penemuan kristal oleh Dr. J.S. Summers.
  2. Kebenaran karena akal sehat (common sense) Akal sehat adalah serangkaian konsep yang dipercayai dapat memecahkan masalah secara praktis. Kepercayaan bahwa hukuman fisik merupakan alat utama untuk pendidikan adalah termasuk kebenaran akal sehat ini. Penelitian psikologi membuktikan hal itu tidak benar.
  3. Kebenaran Agama dan Wahyu Kebenaran mutlak dan asasi dari Tuhan. Beberapa hal masih dapat dinalar dengan pancaindra manusia, tetapi sebagian hal lain, dan karenanya membutuhkan keyakinan (keimanan).
  4. Kebenaran Intuitif Kebenaran yang didapat dari proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berfikir. Kebenaran intuitif sukar dipercaya dan tidak bisa dibuktikan, hanya sering dimiliki oleh orang yang berpengalaman lama dan mendarah daging disuatu bidang. Contohnya adalah Mbah Marijan yang beberapa waktu lalu tidak mau diungsikan dari gunung Merapi dengan alasan merapi tidak akan meletus. Kebenaran bahwa Merapi tidak akan meletus didapat Mbah Marijan atas dasar intuisi.
  5. Kebenaran karena trial and error Kebenaran yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan, baik metode, teknik, materi, dan parameter-parameter sampai pada akhirnya menemukan sesuatu. Memerlukan waktu lama dan biaya tinggi.
  6. Kebenaran spekulasi Kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang. Dikerjakan dengan penuh resiko, relatif cepat, dan biaya lebih rendah dari pada trial-error.
  7. Kebenaran karena kewibawaan Kebenaran yang diterima karena pengaruh kewibawaan seseorang. Seseorang tersebut bisa ilmuan, pakar atau ahli yang memiliki kompetensi atau otoritas dalam suatu bidang ilmu. Kadang kebenaran yang keluar darinya diterima begitu saja tanpa perlu diuji. Kebenaran ini bisa benar tetapi juga bisa salah karena tanpa prosedur ilmiah.
  8. Kebenaran karena kekuasaan Yaitu, sesuatu menjadi benar atau salah karena adanya intervensi kekuasaan. Contohnya adalah invasi suatu negara ke negara lain yang menjadi benar karena negara tersebut memiliki kekuasaan (power)”

Referensi dan Sumber Lain

  • https://www.kompasiana.com/yupiter/5ad8108a16835f0e0d70f6c6/ketika-manusia-mencari-kebenaran?page=all
  • https://www.rehobot.org/beranda_renungan/apakah-yang-dimaksud-dengan-kebenaran-itu/ 
  • https://van88.wordpress.com/teori-teori-kebenaran-filsafat/
  • https://www.gotquestions.org/Indonesia/apakah-kebenaran-itu.html  

Artikel ini ditulis dengan harapan memberi pemahaman tentang arti kebenaran dari berbagai sudut pandang ahli. Sehingga baik dosen, mahasiswa dan khalayak umum dapat memahami maknanya dan membandingkannya dengan perspektif masing-masing. 

Mohon berikan saran dan masukan pada artikel ini dengan mengirimkannya di kolom komentar. Ingin berlangganan konten silahkan kirim email dan tekan tombol berlangganan. 

Berlangganan via Email