Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara Menulis Research Gap dan Novelty dalam Artikel Jurnal Bereputasi Beserta Contoh Paragrafnya

Menemukan research gap dan novelty dalam artikel jurnal merupakan salah satu tantangan ketika peneliti menyusun pendahuluan manuskrip ilmiah. Banyak penulis telah membaca puluhan artikel, tetapi masih kesulitan menjelaskan apa yang belum terjawab oleh penelitian sebelumnya dan kontribusi baru yang ditawarkan penelitiannya.

Kesulitan tersebut biasanya muncul karena penelitian terdahulu hanya dirangkum satu per satu tanpa dianalisis hubungannya. Padahal, research gap tidak cukup dinyatakan melalui kalimat "penelitian tentang topik ini masih terbatas". Penulis perlu menunjukkan bukti kesenjangan dari literatur yang relevan dan menjelaskan mengapa kesenjangan tersebut penting untuk diteliti.

Diagram hubungan penelitian terdahulu, research gap, dan novelty sebagai kontribusi baru dalam artikel jurnal ilmiah
Pelatihan Pengelolaan Jurnal

Artikel ini menguraikan pengertian, jenis kesenjangan penelitian, cara menemukannya melalui telaah literatur, serta contoh penulisan paragraf research gap dan novelty yang dapat dipelajari untuk penyusunan artikel jurnal bereputasi.

Inti Pembahasan

Research gap adalah kesenjangan pengetahuan atau bukti yang masih membutuhkan penelitian. Sementara itu, novelty merupakan unsur kebaruan atau kontribusi yang ditawarkan penelitian untuk menjawab kesenjangan tersebut. Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak memiliki arti yang sama.

Apa Itu Research Gap dan Novelty dalam Artikel Jurnal?

Research gap mengacu pada bagian dari pengetahuan ilmiah yang belum memadai untuk menjawab suatu pertanyaan penelitian. Kesenjangan dapat muncul karena bukti empiris belum mencukupi, hasil studi saling bertentangan, keterbatasan metode, atau penjelasan teoretis yang belum memadai.

Snyder (2019) menjelaskan pentingnya telaah literatur untuk menilai perkembangan pengetahuan, mengintegrasikan temuan, dan mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan penelitian berikutnya. Dengan demikian, penemuan kesenjangan harus bertumpu pada proses membaca, membandingkan, dan mengevaluasi penelitian yang sudah tersedia.

Research gap menunjukkan persoalan yang belum terjawab

Sebagai ilustrasi, sejumlah penelitian mungkin telah membahas hubungan kemampuan keuangan dengan kinerja usaha. Namun, apabila bukti mengenai mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebut belum memadai, penelitian baru dapat diarahkan untuk memeriksa mekanisme itu.

Kesenjangan tersebut harus didukung oleh penelusuran literatur yang memadai. Peneliti tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa suatu hubungan belum pernah diteliti hanya karena tidak menemukannya dalam beberapa artikel pertama.

Novelty menjelaskan kontribusi yang ditawarkan

Novelty menjawab pertanyaan mengenai apa yang dibawa penelitian baru ke dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Kontribusi tersebut dapat berupa penjelasan konseptual, pengujian mekanisme yang belum jelas, pendekatan metodologis yang lebih tepat, ataupun bukti empiris yang memperbaiki pemahaman sebelumnya.

Kebaruan tidak selalu berarti menemukan teori yang sama sekali baru. Penelitian dapat memberikan kontribusi melalui pengujian asumsi yang selama ini digunakan atau penyelesaian perbedaan hasil penelitian terdahulu.

Hubungan Research Gap dengan Novelty
Pengetahuan yang Sudah Ada

Teori, metode, dan temuan penelitian terdahulu

↓
Research Gap

Apa yang belum cukup dijelaskan atau dibuktikan?

↓
Novelty dan Kontribusi

Penjelasan, bukti, atau pendekatan baru yang ditawarkan penelitian

Diagram konseptual yang menggambarkan hubungan antara telaah literatur, kesenjangan, dan kontribusi penelitian.

Jenis-Jenis Research Gap yang Perlu Diketahui Peneliti

Setiap kesenjangan penelitian memiliki dasar argumentasi yang berbeda. Peneliti perlu mengidentifikasi jenis kesenjangan yang paling sesuai dengan bukti dari literatur, bukan memilih istilah hanya karena dianggap menarik.

1. Empirical Gap: Bukti empiris belum memadai

Empirical gap muncul ketika suatu hubungan atau fenomena belum didukung oleh bukti yang cukup, atau hasil penelitian terdahulu belum memberikan kesimpulan yang konsisten.

Misalnya, sebagian studi menemukan hubungan positif antara penggunaan teknologi digital dan kinerja usaha, sedangkan studi lain tidak menemukan hubungan yang berarti. Perbedaan ini dapat menjadi alasan untuk meneliti kondisi yang menyebabkan hasil tersebut bervariasi.

Namun, perbedaan hasil tidak boleh langsung dianggap sebagai kontradiksi. Peneliti terlebih dahulu harus memeriksa apakah studi menggunakan definisi variabel, ukuran, sampel, dan metode analisis yang sebanding.

2. Theoretical Gap: Keterbatasan penjelasan teori

Theoretical gap terjadi ketika teori yang digunakan belum sepenuhnya menjelaskan suatu fenomena atau terdapat asumsi teoretis yang perlu diuji kembali.

Alvesson dan Sandberg (2011) menekankan bahwa pengembangan pertanyaan penelitian tidak harus berhenti pada pencarian bagian literatur yang belum dibahas. Peneliti juga dapat mempertanyakan asumsi yang mendasari penjelasan ilmiah yang telah diterima.

Kontribusi teoretis menjadi lebih kuat apabila penelitian tidak hanya menambahkan variabel ke dalam model, tetapi menjelaskan bagaimana hasilnya dapat memperluas, membatasi, atau memperbaiki pemahaman teori.

3. Methodological Gap: Keterbatasan pendekatan penelitian

Methodological gap berkaitan dengan keterbatasan metode yang digunakan dalam penelitian sebelumnya. Contohnya, fenomena perubahan perilaku yang berlangsung dalam jangka panjang mungkin belum dapat dipahami secara memadai melalui pengamatan pada satu waktu.

Penelitian baru dapat menggunakan pendekatan longitudinal apabila diperlukan untuk menjawab perubahan tersebut. Akan tetapi, penggunaan metode yang berbeda tidak otomatis menghasilkan novelty; peneliti harus menunjukkan mengapa metode baru dapat memberikan pemahaman yang lebih baik.

4. Contextual atau Population Gap: Konteks penelitian belum terwakili

Kesenjangan kontekstual terjadi ketika pemahaman yang diperoleh pada satu populasi atau lingkungan belum tentu berlaku pada lingkungan lainnya.

Misalnya, hasil penelitian terhadap perusahaan besar belum tentu dapat diterapkan begitu saja pada usaha mikro. Perbedaan struktur organisasi, sumber daya, dan pengambilan keputusan dapat menghasilkan kondisi yang berbeda.

Meskipun demikian, menggunakan lokasi penelitian baru saja bukan jaminan kontribusi ilmiah. Peneliti harus menjelaskan mengapa karakteristik konteks baru dapat memengaruhi hubungan yang sedang dipelajari.

Cara Menemukan Research Gap dari Artikel Jurnal

Menemukan kesenjangan penelitian memerlukan lebih dari sekadar membaca abstrak. Peneliti perlu memahami temuan, keterbatasan, dan hubungan antarstudi yang relevan.

Langkah 1. Rumuskan fokus penelitian secara spesifik

Tentukan fenomena utama, hubungan yang ingin dipahami, populasi, dan kemungkinan pendekatan penelitian. Fokus yang jelas akan membantu menghindari pencarian literatur yang terlalu luas.

Contohnya, topik "keuangan UMKM" masih sangat umum. Fokus dapat dipersempit menjadi hubungan antara kapabilitas finansial, resiliensi finansial, dan kinerja bisnis UMKM.

Langkah 2. Gunakan kombinasi kata kunci yang relevan

Penelusuran dapat dilakukan menggunakan beberapa variasi istilah bahasa Inggris yang lazim dipakai dalam publikasi ilmiah.

Contoh kombinasi pencarian:

("financial capability" OR "financial literacy") AND ("financial resilience" OR "business resilience") AND ("SME" OR "MSME")

Kombinasi istilah perlu disesuaikan dengan sintaks basis data yang digunakan. Peneliti juga sebaiknya memeriksa istilah alternatif, publikasi yang paling relevan, serta artikel yang lebih baru agar tidak melewatkan perkembangan penting.

Langkah 3. Baca bagian hasil, diskusi, dan keterbatasan

Abstrak membantu menyaring artikel, tetapi belum cukup untuk menilai research gap. Bacalah hasil penelitian, interpretasi penulis, batasan desain, dan saran penelitian berikutnya.

Perhatikan pertanyaan berikut: apa kesimpulan utama studi, dalam kondisi apa kesimpulan tersebut berlaku, dan persoalan apa yang masih belum diselesaikan?

Langkah 4. Bandingkan, bukan hanya merangkum

Sandberg dan Alvesson (2011) menunjukkan bahwa pencarian celah dalam literatur merupakan pendekatan umum dalam merumuskan pertanyaan penelitian. Namun, pencarian tersebut dapat diperdalam dengan menguji asumsi yang mendasari studi sebelumnya.

Karena itu, penulis sebaiknya tidak berhenti pada pernyataan bahwa penelitian A menemukan hasil positif dan penelitian B menemukan hasil negatif. Jelaskan kemungkinan alasan perbedaan tersebut, termasuk konteks, metode, serta definisi konsep.

Langkah 5. Nilai apakah kesenjangan layak diteliti

Setelah menemukan dugaan kesenjangan, peneliti perlu menguji relevansinya. Kesenjangan yang belum pernah diteliti belum tentu penting. Sebaliknya, persoalan yang telah banyak dikaji tetap dapat bernilai apabila penelitian baru mampu menyelesaikan ketidakpastian yang berarti.

Pertimbangkan signifikansi masalah, kemungkinan kontribusi teoritis atau praktis, ketersediaan data, kelayakan metode, dan etika penelitian sebelum menetapkan pertanyaan akhir.

Contoh Matriks Literatur untuk Mengidentifikasi Research Gap

Matriks literatur membantu peneliti membandingkan temuan tanpa harus mengingat setiap artikel secara terpisah. Informasi yang dicatat sebaiknya berhubungan langsung dengan fokus penelitian, bukan seluruh detail setiap publikasi.

Berikut adalah simulasi untuk latihan analisis mengenai penelitian keuangan UMKM. Studi A, B, dan C merupakan contoh hipotetis, bukan artikel jurnal yang telah diterbitkan. Matriks ini menunjukkan cara berpikir, bukan bukti adanya research gap yang sebenarnya.

Tabel 1. Simulasi Matriks Penelitian Terdahulu
Studi ilustratif Fokus Temuan yang diasumsikan Batasan yang diasumsikan
Studi A Kapabilitas finansial dan kinerja usaha Hubungan positif Belum menguji mekanisme perantara
Studi B Resiliensi finansial dan keberlanjutan usaha Resiliensi berhubungan dengan kemampuan bertahan Tidak menguji kapabilitas finansial sebagai faktor awal
Studi C Kapabilitas finansial dalam UMKM Hasil berbeda menurut karakteristik usaha Belum menjelaskan faktor yang menyebabkan perbedaan

Dari simulasi tersebut, peneliti dapat menyusun dugaan kesenjangan mengenai peran resiliensi finansial sebagai mekanisme yang menghubungkan kapabilitas finansial dengan kinerja usaha.

Namun, dugaan ini masih harus diuji melalui penelusuran artikel asli. Jika ternyata sejumlah penelitian telah menguji mekanisme yang sama, peneliti perlu menilai apakah masih terdapat ketidakpastian teoretis, bukti yang saling bertentangan, atau keterbatasan lain yang benar-benar penting.

Apa yang perlu dicatat dalam matriks penelitian asli?

Untuk matriks yang digunakan dalam penelitian sesungguhnya, catat nama penulis dan tahun, pertanyaan penelitian, teori, karakteristik sampel, metode, hasil utama, keterbatasan, serta kemungkinan kontribusi terhadap penelitian baru.

Pencatatan tersebut membantu memastikan bahwa setiap klaim mengenai penelitian terdahulu dapat ditelusuri ke sumber yang benar.

Contoh Paragraf Research Gap dan Novelty untuk Artikel Jurnal Bereputasi

Paragraf kesenjangan penelitian yang baik seharusnya menunjukkan hubungan antara pengetahuan yang tersedia, masalah yang belum terjawab, pentingnya masalah tersebut, dan arah kontribusi penelitian baru.

Contoh paragraf yang masih lemah

"Penelitian tentang kapabilitas finansial telah banyak dilakukan. Namun, penelitian tentang pengaruh kapabilitas finansial terhadap kinerja UMKM di wilayah tertentu masih sedikit. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki novelty karena dilakukan pada lokasi yang berbeda."

Paragraf tersebut belum cukup kuat karena tidak menunjukkan penelitian yang dibandingkan, persoalan pengetahuan yang belum terjawab, ataupun alasan mengapa perbedaan lokasi akan menghasilkan kontribusi ilmiah.

Pernyataan "masih sedikit" juga membutuhkan bukti dari hasil penelusuran literatur. Tanpa bukti tersebut, klaim kebaruan sulit dipertanggungjawabkan.

Contoh paragraf yang lebih analitis

"Kajian mengenai kapabilitas finansial dan kinerja usaha dapat memberikan pemahaman tentang pentingnya kemampuan pengelolaan keuangan bagi pelaku UMKM. Namun, hubungan tersebut perlu dikaji lebih jauh apabila bukti penelitian menunjukkan bahwa kemampuan finansial tidak selalu menghasilkan kinerja usaha yang seragam. Salah satu pertanyaan yang relevan adalah apakah kemampuan mempertahankan stabilitas keuangan ketika menghadapi tekanan berperan dalam menjelaskan hubungan tersebut. Oleh karena itu, penelitian yang menguji resiliensi finansial sebagai mekanisme perantara berpotensi memperjelas proses melalui mana kapabilitas finansial berkaitan dengan kinerja bisnis UMKM."

Paragraf kedua menunjukkan hubungan yang lebih jelas antara dugaan persoalan, mekanisme penjelas, dan arah penelitian. Namun, paragraf tersebut masih berupa contoh latihan penulisan. Dalam artikel jurnal yang sebenarnya, pernyataan mengenai penelitian terdahulu harus didukung oleh sitasi publikasi asli yang sesuai.

Contoh pernyataan novelty

Apabila hasil telaah literatur benar-benar mendukung dugaan kesenjangan di atas, kontribusi penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

"Kontribusi penelitian ini terletak pada pengujian resiliensi finansial sebagai mekanisme yang menjelaskan keterkaitan antara kapabilitas finansial dan kinerja bisnis UMKM. Melalui pendekatan tersebut, penelitian diarahkan untuk memperluas pemahaman mengenai proses bagaimana kemampuan pengelolaan keuangan dapat berhubungan dengan pencapaian kinerja usaha, khususnya ketika pelaku usaha menghadapi tekanan finansial."

Pernyataan tersebut lebih terarah daripada sekadar menyebutkan bahwa penelitian menggunakan variabel atau wilayah baru. Akan tetapi, kekuatan novelty akhirnya harus dinilai berdasarkan literatur yang benar-benar tersedia serta hasil penelitian yang diperoleh.

Pola argumentasi yang dapat digunakan

Untuk menyusun paragraf secara sistematis, peneliti dapat mengembangkan argumentasi dengan urutan berikut:

  1. Pengetahuan awal: Apa yang telah diketahui melalui penelitian sebelumnya?
  2. Kesenjangan: Bagian mana yang belum memadai atau masih diperdebatkan?
  3. Signifikansi: Mengapa persoalan tersebut penting diselesaikan?
  4. Tujuan: Pertanyaan apa yang akan dijawab penelitian?
  5. Kontribusi: Pemahaman baru apa yang berpotensi dihasilkan?

Urutan ini merupakan alat bantu argumentasi, bukan rumus yang wajib diikuti secara kaku. Susunan aktual perlu mengikuti karakter bidang ilmu, kebiasaan jurnal tujuan, dan bukti penelitian yang tersedia.

Bagaimana Menilai Apakah Novelty Penelitian Sudah Kuat?

Peneliti sering menganggap kebaruan sebagai sesuatu yang cukup dibuktikan dengan menyatakan bahwa topik belum pernah diteliti. Pendekatan demikian berisiko menghasilkan klaim berlebihan.

Novelty yang lebih meyakinkan memiliki hubungan yang jelas dengan masalah ilmiah dan kontribusi yang dapat dinilai.

Tabel 2. Perbedaan Klaim Kebaruan Lemah dan Kuat
Aspek Klaim yang lemah Argumentasi yang lebih kuat
Lokasi Penelitian dilakukan di daerah baru Karakteristik wilayah relevan untuk menguji batas penerapan temuan sebelumnya
Variabel Menambahkan satu variabel baru Variabel tambahan digunakan untuk menjelaskan mekanisme yang belum dipahami
Metode Menggunakan aplikasi analisis yang berbeda Pendekatan baru mengatasi keterbatasan analisis sebelumnya
Teori Menggunakan teori yang berbeda Penelitian menguji atau memperbaiki penjelasan teoretis yang belum memadai

Sebelum menetapkan novelty, peneliti dapat menguji argumennya dengan empat pertanyaan penting.

Apakah kebaruan didukung bukti literatur?

Peneliti harus dapat menunjukkan sumber yang relevan untuk mendukung klaim adanya kekosongan, kontradiksi, atau keterbatasan. Klaim absolut seperti "penelitian pertama di dunia" memerlukan dasar yang sangat kuat dan umumnya lebih baik dihindari apabila tidak dapat dibuktikan.

Apakah kontribusinya menjawab persoalan penting?

Penelitian yang berbeda dari studi terdahulu belum tentu menghasilkan tambahan pengetahuan yang berarti. Perbedaan tersebut harus berkaitan dengan persoalan ilmiah yang relevan.

Apakah metode mampu menjawab pertanyaan penelitian?

Kebaruan perlu didukung rancangan penelitian yang layak. Klaim mengenai proses sebab-akibat, misalnya, harus mempertimbangkan apakah data dan metode benar-benar memungkinkan kesimpulan kausal.

Apakah kontribusi dapat dijelaskan secara spesifik?

Penulis sebaiknya mampu menjelaskan kontribusi penelitiannya dalam satu atau dua kalimat yang konkret, tanpa mengandalkan ungkapan umum seperti "memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan".

Kesalahan Umum dalam Menulis Research Gap dan Novelty

Menganggap perbedaan lokasi otomatis sebagai novelty

Lokasi baru dapat penting apabila karakteristiknya memungkinkan pengujian batas penerapan teori atau hasil studi sebelumnya. Tanpa argumentasi tersebut, perubahan lokasi mungkin hanya menghasilkan pengulangan penelitian.

Mengumpulkan sitasi tanpa melakukan sintesis

Pendahuluan yang memuat banyak nama peneliti belum tentu menunjukkan kedalaman kajian. Sintesis mengharuskan penulis menghubungkan temuan, menilai perbedaan, dan mengidentifikasi persoalan yang belum terjawab.

Menjadikan rekomendasi penelitian terdahulu sebagai satu-satunya dasar

Saran penelitian lanjutan dapat menjadi titik awal, tetapi belum tentu menunjukkan kesenjangan yang masih relevan. Penulis perlu memeriksa apakah penelitian lain telah menjawab saran tersebut.

Mengklaim novelty sebelum melakukan penelusuran memadai

Keterbatasan hasil pencarian tidak membuktikan ketiadaan penelitian. Variasi istilah, perbedaan bahasa, jenis publikasi, dan cakupan basis data dapat menyebabkan studi yang relevan terlewat.

Menggunakan referensi yang tidak benar-benar mendukung klaim

Setiap sitasi harus sesuai dengan pernyataan yang didukungnya. Penulis perlu membaca sumber asli, bukan hanya mengandalkan kutipan sekunder, ringkasan otomatis, atau daftar referensi yang belum diperiksa.

Catatan Penting untuk Penulis Artikel Jurnal

Research gap yang kuat harus dapat ditunjukkan melalui bukti, sedangkan novelty yang meyakinkan harus memperlihatkan kontribusi yang relevan. Keduanya sebaiknya ditulis secara proporsional tanpa melebih-lebihkan hasil penelitian atau merendahkan kontribusi studi terdahulu.

Kesimpulan

Menulis research gap dan novelty dalam artikel jurnal bereputasi membutuhkan kemampuan melakukan telaah literatur secara kritis. Peneliti perlu memahami apa yang telah diketahui, bagian mana yang masih belum memadai, mengapa kesenjangan tersebut penting, dan bagaimana penelitian baru dapat memberikan kontribusi.

Proses ini dapat dimulai dengan menentukan fokus penelitian, menelusuri artikel relevan, menyusun matriks literatur, membandingkan temuan, dan merumuskan pertanyaan penelitian yang benar-benar didukung bukti.

Research gap menunjukkan masalah pengetahuan yang ingin diselesaikan. Novelty menjelaskan tambahan pemahaman yang berpotensi diberikan penelitian. Semakin jelas hubungan keduanya, semakin mudah penulis menyusun argumentasi pendahuluan yang meyakinkan dan menentukan arah penelitian yang terukur.

Daftar Pustaka

  1. Alvesson, M., & Sandberg, J. (2011). Generating research questions through problematization. Academy of Management Review, 36(2), 247–271. DOI: 10.5465/amr.2009.0188.
  2. Sandberg, J., & Alvesson, M. (2011). Ways of constructing research questions: Gap-spotting or problematization? Organization, 18(1), 23–44. DOI: 10.1177/1350508410372151.
  3. Snyder, H. (2019). Literature review as a research methodology: An overview and guidelines. Journal of Business Research, 104, 333–339. DOI: 10.1016/j.jbusres.2019.07.039.
  4. Imperial College London Library. Introduction to Literature Reviews: Finding a Research Gap. Panduan perpustakaan akademik tentang identifikasi kesenjangan penelitian.
  5. University of Chicago Library. Literature Reviews: Identifying the Research Gap. Panduan perpustakaan akademik tentang penemuan dan penilaian kesenjangan penelitian.